Jumat, 14 September 2012

SKRIPSI “Usaha Guru Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Pada Siswa di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat”

BAB I

PENDAHULUAN

Untuk menjelaskan skripsi yang berjudul “Usaha Guru Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Pada Siswa di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat”, maka perlu untuk merumuskan  penegasan istilah secara operasional dari judul tersebut. Hal itu untuk mengantisipasi terjadinya kesalahpahaman dalam penafsiran, maka penulis perlu untuk memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
                        Usaha
Usaha  adalah kegiatan untuk mengerahkan tenaga, pikiran, untuk mencapai suatu maksud.[1] Yang dimaksud usaha di sini adalah suatu upaya atau ikhtiar yang dilakukan oleh guru agama Islam untuk meningkatkan motivasi belajar PAI pada siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat.

                        Guru Agama Islam
Guru agama Islam adalah  pendidik yang mempunyai tanggung jawab sebagai guru agama dalam membentuk kepribadian anak didik, serta mampu beribadah kepada  Allah.[2]
Kaitannya dengan judul di atas adalah bahwa guru agama merupakan guru yang mengajar dan mendidik siswa di sekolah pada mata pelajaran PAI.
                        Meningkatkan
Meningkatkan berarti menaikkan (derajat, taraf), memperhebat (produksi), mempertinggi.[3] Konsep operasional dalam penelitian skripsi ini adalah meningkatkan yang berarti menumbuhkan dan mendorong minat siswa untuk belajar.
                        Motivasi
Motivasi berarti suatu tenaga (dorongan, kemauan) dari dalam yang menyebabkan seseorang  berbuat atau bertindak yang mana tindakan itu diarahkan kepada tujuan tertentu yang hendak dicapai.[4] Motivasi disini maksudnya adalah suatu dorongan motif dalam diri seseorang yang mana dengan motivasi tersebut akan menyebabkan aktif dan merasakan ada kebutuhan dalam melakukan belajar, sehingga dengan demikian proses belajar mengajar akan berhasil secara optimal. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka siswa yang belajar akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
                        Belajar
Belajar adalah sebuah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan dari hasil  proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman sikap dan tingkah laku, keterampilan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu belajar.[5]
                        Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik dengan tujuan agar dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai way of life (jalan kehidupan).[6] Adapun yang di maksud dengan Pendidikan agama Islam  dalam penelitian ini adalah PAI yang dirumuskan pada kurikulum untuk tingkat SLTP.
                        Siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat
Siswa yang di maksud di sini adalah siswa atau peserta didik yang bersekolah di SLTPN 3 Kuningan yang mana sekolah ini adalah milik pemerintah di bawah instansi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berlokasi di Jl. Pramuka No. 104 Kel. Purwawinangun Kec. Kuningan Jawa Barat.
Berdasarkan definisi operasional di atas, maka maksud dari  judul skripsi ini  adalah sebagai suatu penelitian lapangan tentang usaha  yang dilakukan oleh guru agama Islam dalam mempengaruhi minat dan kecenderungan belajar pandidikan agama Islam pada siswa SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat, sehingga dengan adanya usaha guru dalam menumbuhkan  motivasi belajar belajar ini diharapkan prestasi siswa semakin meningkat. 

            Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah proses secara sadar dalam membentuk anak didik untuk mencapai perkembangannya menuju kedewasaan jasmani maupun rohani, dan proses ini merupakan usaha pendidik membimbing anak didik dalam arti khusus misalnya memberikan dorongan atau motivasi dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa.
Dalam pendidikan motivasi merupakan salah satu faktor penunjang dalam menentukan intensitas usaha untuk belajar dan juga dapat dipandang sebagai suatu usaha yang membawa anak didik ke arah pengalaman belajar sehingga dapat menimbulkan tenaga dan aktivitas siswa serta memusatkan perhatian siswa pada suatu waktu tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku tetapi juga dapat mengarahkan dan memperkuat tingkah laku. Siswa yang mempunyai motivasi dalam pembelajarannya akan menunjukkan minat, semangat dan ketekunan yang tinggi dalam belajarnya, tanpa banyak bergantung kepada guru.
Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas yaitu dalam hal menumbuhkan gairah dalam belajar, merasa senang dan mempunyai semangat untuk belajar sehingga proses belajar mengajar dapat berhasil secara optimal.[7]
Berdasarkan sumbernya, motivasi belajar dapat dibagi menjadi dua yaitu (1) motivasi intrinsik, yakni motivasi yang datang dari dalam peserta didik; dan (2) motivasi ekstrinsik, yakni motivasi yang datang dari lingkungan di luar diri peserta didik.
Dalam pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah perlu diupayakan bagaimana agar dapat mempengaruhi dan menimbulkan motivasi intrinsik melalui penataan metode pembelajaran yang dapat mendorong tumbuhnya motivasi ekstrinsik dapat mendorong tumbuhnya motivasi belajar dalam diri siswa. Sedangkan untuk menumbuhkan motivasi ekstrinsik dapat diciptakan suasana lingkungan yang religius sehingga tumbuh motivasi untuk mencapai tujuan PAI sebagaimana yang telah ditetapkan.[8]   
Berkaitan dengan fungsi motivasi, S. nasution menjelaskan bahwa motivasi dapat berfungsi sebagai:
1.      Mendorong manusia untuk berbuat sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi.
2.      Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai
3.      Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu, dengan mengesampingkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.[9]

Memperhatikan fungsi motivasi yang sangat besar faedahnya bagi siswa dalam proses pembelajaran, maka jelas fungsi guru agama sebagai motivator sangat dibutuhkan, terlebih jika dikaitkan dengan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah umum khususnya SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat, dimana waktu yang digunakan adalah sangat terbatas yaitu 2 X 45 menit dalam seminggu. Hal ini menjadi kendala dan problem dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam. Problem lain yang terjadi bahwa siswa cenderung kurang berminat terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, disamping proses pembelajaran yang kelihatan kurang maksimal diminati siswa, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.
Anak didik adalah makhluk yang memiliki kreatifitas dan serba aktif yang menuntut agar dalam pendidikan anak benar-benar dibimbing dan diarahkan agar ia dengan sendirinya juga menampakkan kreatifitasnya. Di dalam proses belajar mengajar anak harus diperhatikan dan diposisikan sesuai dengan kemampuannya, serta pendidikan hendaknya lebih bersifat menolong berkembangnya pikiran kritis, tidak hanya berupa pemberian materi pelajaran yang tidak memenuhi kepada  apa yang dibutuhkan anak.[10]
Berkaitan dengan masalah pendidikan ini peranan guru agama Islam SLTPN 3 Kuningan besar sekali pengaruhnya terhadap keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar pendidikan agama. Sebagai seorang  guru agama Islam, hal tersebut merupakan tantangan pertama dalam menumbuhkan peningkatan minat dan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran agama serta membantu memecahkan kesulitan siswa terutama dalam kegiatan kurikuler.

Tugas guru agama sebagai seorang pendidik tidak hanya terbatas pada penyampaian materi/ pengetahuan agama kepada siswa, tetapi guru juga mempunyai tanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan siswanya serta mengetahui keadaan siswa dengan kepekaan untuk memperkirakan kebutuhan siswanya. Oleh karena itu, guru agama Islam dituntut tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan yang mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikir siswa. Hal ini dapat diupayakan dengan disertai wawasan tertulis serta keterampilan bertindak, serta mengkaji berbagai informasi dan keluhan mereka yang mungkin menimbulkan keresahan.

Guru agama dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar juga di tuntut untuk menciptakan kondisi-kondisi kelas yang menyenangkan (kondusif)  yang dapat mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh, baik itu di lingkungan yang bersifat formal maupun secara luas belajar agama di lingkungan non formal secara mandiri. Di samping itu, guru juga harus mempunyai keterampilan dalam memotivasi siswa, karena dengan adanya motivasi itu kosentrasi dan antusiasme siswa dalam belajar dapat meningkat.

Sesungguhnya permasalahan di atas yang menjadi kendala dalam  usaha guru agama Islam dalam melaksanakan proses belajar mengajar khususnya dalam bidang studi pendidikan agama Islam di SLTPN 3 Kuningan, walaupun sudah melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti yang meliputi praktek shalat, tadarusan al-Qur`an dan lain-lain. Dengan demikian, usaha guru agama untuk menumbuhkan motivasi yang besar untuk belajar agama Islam masih perlu untuk disempurnakan lagi.

Namun demikian, karena  meningkatkan motivasi belajar agama Islam  bukanlah hal yang mudah, melainkan masih banyak problem-problem yang dihadapi guru agama Islam, maka kreatifitas dan profesionalitas guru-guru agama dan ketekunan serta keuletan dengan berbagai usaha yang dapat mengantarkan pada tumbuhnya motivasi belajar agama dengan baik.

Berdasarkan studi pendahuluan di atas, maka penelitian ini terfokus pada  usaha-usaha yang telah ditempuh oleh guru agama Islam di SLTPN 3 Kuningan dalam meningkatkan motivasi belajar di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat.  



BAB IV

PENUTUP 

Kesimpulan

Berdasar pada uraian di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Keadaan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama Islam di SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat cukup baik, hal ini terbukti bahwa siswa  memiliki motifasi kuat mengikuti mata pelajaran agama Islam, walaupun masih ada sebagian kecil siswa yang kurang memperhatikan guru ketika menyampaikan materi pelajaran tersebut.

Usaha-usaha yang telah ditempuh oleh guru agama Islam SLTPN 3 Kuningan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama Islam diantaranya:

Mengadakan kegiatan intra kurikuler yaitu dengan cara:

Dengan menumbuhkan dan meningkatkan perhatian dan konsentrasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar agama  Islam.

Dengan menumbuhkan semangat belajar agama Islam sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar dalam diri siswa baik di kelas maupun di luar kelas.

Dengan mendorong siswa dan memberi kesempatan untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar agama Islam.

Dengan menggunakan metode yang variatif yang dapat menciptakan kondisi kelas yang aktif sehingga tercapainya tujuan proses belajar mengajar.

Menumbuhkan kesadaran diri siswa akan penting dan manfaatnya pendidikan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari di dunia maupun kehidupan kelak di akhirat.

Mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan di luar jam pelajaran sekolah/ kegiatan ekstra kurikuler yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa seperti:

a. Yasinan, yang dilaksanakan setiap hari Jum`at sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung.

b.  Peringatan hari-hari besar Islam seperti peringatan maulid Nabi SAW atau isra` mi`raj dengan mendatangkan penceramah dari luar.

c. Shalat berjama`ah yang dilaksanakan setiap hari terutama shalat dzuhur serta shalat jum`at di sekolah.

d. Studi Islam Intensif, kegiatan keagamaan kerjasama antara sekolah dan remaja mesjid Syiarul Islam Kuningan ini dilaksanakan pada tiap hari Minggu.

3.         Hasil dari usaha guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar agama   pada siswa baik, meliputi:

            a.  Ada peningkatan motivasi belajar agama pada siswa

            b.  Antusiasnya siswa dalam mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan   diluar jam mata pelajaran sekolah.

            c.  Banyaknya sisi yang memakai jilbab di sekolah. 

Saran- saran

Bagi kepala sekolah

Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan, hendaknya lebih meningkatkan kerjasama terutama dengan guru, orang tua wali dan masyarakat serta semua komponen yang ada di sekolah sehingga kegiatan- kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta memudahkan dalam pencapaian tujuan pendidikan yang maksimal.

Dalam upaya membentuk siswa yang berakhlak mulia, selalu maju dalam prestasi dan terampil sesuai dengan visi SLTPN 3 Kuningan, hendaknya ada sistem integrasi pembelajaran agama dalam semua mata pelajaran. Dengan demikian semua guru akan lebih memiliki rasa tanggung jawab dalam menanamkan nilai agama Islam.

Bagi guru agama Islam

Guru hendaknya memperlakukan siswa sesuai dengan perkembangan psikologis siswa terutama dengan tingkat perkembangan jiwa dan agama siswa.

Guru dalam membina kepribadian siswa hendaknya diikuti dengan contoh atau teladan yang nyata dari guru (suri tauladan yang baik).

Guru hendaknya meningkatkan kompetensi profesional sebagai seorang pengajar, sehingga akan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan dan siswa akan lebih termotivasi untuk lebih giat belajar agama.

Guru hendaknya selalu membuat persiapan pengajaran, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat terarah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
  
      3. Bagi Siswa

Hendaknya siswa lebih tekun lagi belajar, khususnya belajar agama Islam, baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Karena agama adalah merupakan bagian yang paling mendasar bagi manusia sebagai pegangan hidup baik di dunia maupun di akhirat.


      4. Bagi sekolah

Sekolah hendaknya melengkapi sarana prasarana pembelajaran khususnya untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam, karena dengan kelengkapan sarana prasarana yang ada di sekolah akan sangat membantu siswa dalam meningkatkan motivasi belajarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar anda atas blog kami sngat berguna buat perbaikan di kemudian hari.
tutur kata yang santun mencerminkan pribadi yg bijak.
terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.