Minggu, 12 Agustus 2012

ILMU MANFAAT DAN BAROKAH

     Pengertian ilmu manfaat dan barokah
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa membawa pemiliknya agar selalu taat pada Allah swt,mengamalkan ilmu untuk kepentingan bangsa masyarkat, keluarga, dan pribadi khususnya. Dari defenisi diatas maka segala ilmu yang tidak bisa mengajak pemiliknya untuk takut, tawadhu’ pada Allah swt, melainkan justru mengajak pemiliknya untuk durhaka pada Allah swt, maka ilmu tersebut disebut ilmu yang tidak bermanfaat. Pada dasarnya semua ilmu itu bermanfaat, baik bagi urusan dunia maupun akhirat. Faktor memanfaatkan dan mudhllaradlah yang kita harus mampu untuk memilah dan memilih. Demi kebahagiaan dunia, semua dicari dengan ilmu, demi kebahagiaan akhirat, juga dengan ilmu.

Allah Ta’ala berfirman :
“ Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”(Al-Jumuah : 5)  Adapun ilmu yang Allah Ta’ala sebutkan pada kedudukan tercela, yaitu ilmu sihir seperti firman-Nya :
“… Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka sudah tahu barangsiapa memberi (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak mendapat keuntungan diakhirat. Sungguh sanga buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.”
(Al-Baqarah :102)
Rasululllah saw bersabda :
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya laksana hujan deras yang menimpa tanah. Diantara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Diantaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah) yang lain yaitu : yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutus aku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dnegannya aku diutus.”
Rasulullah saw ketika datang membawa ajaran agama Islam beliau mengumpamakannya dnegan hujan yang dibutuhkan manusia. Kondisi manusia sebelum diutusnya Rasulullah saw seperti tanah yang kering, gersang dan tandus. Kemudian kedatangan beliau Rasulullah saw membawa ilmu yang bermanfaat, menghidupkan hati-hati yang mati sebagaimana hujan menghidupkan tanah-tanah yang mati. Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu agama dengan berbagai tanah yang terkena air hujan, diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya. Ornag ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.
      Diantara mereka ada juga yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengamalkannya, akan tetapi dia mengajrkannya untuk orang lain. Maka, dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang disebut dalam sabda beliau, “Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengajrkannya seperti yang dia dengar.” Diantara mereka ada juga yang mendnegar ilmu namun tidak mengahafal/menjaganya serta tidak menyampaikannya kepada orang lain, maka perumpamaannya seperti tanah yang berair atau tanah yang gersang yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada disekelilingnya.
§  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th 72811) rahimahullaah mengatakan :
    “ Ilmu adalah apa yang dibangun diatas dalil dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dalam urusan duniawai, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian dan ilmu perdagangan.”
§  Ibnu Rajab Al Hanbali (wafat th 795 H) rahimahullaah mengatakan :
    Pokok segala ilmu adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala yang akan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dekat terhadap-Nya, tenang dengan-Nya, dan rindu pada-Nya. Kemudian setelah itu berilmu tentang hukum-hukum Allah, apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya dari perbuatan, perkataan, keadaan atau keyakinan hamba.
     Ibnu Rajab juga menjelaskan, ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan benar ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta memahami maknanya sesuai dengan yang ditafsirkan para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Lalu mempelajari apa yang datang dari mereka tentang halal dan haram, zuhud dan semacamnya, serta berusaha mempelajari mana yang shahih dan mana yang tidak dari apa yang telah disebutkan.
§  Imam Mujahid bin Jabr (wafat th 104 H) raahimahullaah mengatakan :
“Orang yang faqih adalah orang yang takut kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya sedikit. Dan orang yang bodoh adalah orang yang berbuat durhaka kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya banyak.” Perkataan beliau rahimahullaah menunjukkan bahwa ada orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya, namun ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi orang tersebut karena tidak membawanya kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala.
a.     Tanda-tanda Ilmu yang bermanfaat
1)  Mengamalkannya
     Mengamalkannya ilmu ini setelah anda membenarkan apa yang anda ketahui ,jika ada seseorang yang tidak bisa mengamalkan apa yang dia ketahui, maka ilmunya tidaklah bermanfaat. Tetapi, apakah kemudian ilmu tersebut menjadi madharat atau hanya tidak bermanfaat semata?Jawabnya adalah ilmu itu akan menjadi madharat baginya , karena Rasulullah bersabda, “Al Qur’an akan menjadi sebab keberuntunganmu atau menjadi sebab kecelakaanmu.” Oleh sebab itu, ilmu bisa menjadi sebab kebahagiaan bagi anda atau sebab kesengsaraan.
2)       Tidak suka dipuji dan menyombongkan diri pada orang lain
     Hal ini merupakan bencana yang menimpa sebagian orang, dia merasa suci dan mengangggap bahwa apa yang dia katakan adalah benar, dan jika orang laon menyelisihinya maka dia katakan orang itu salah. Demikian halnya dengan sifat sombong, ada sebagian orang yang menjadi sombong ketika Allah memberikan ilmu kepadanya.
3)   Ilmu yang semakin bertambah maka dia akan semakin tawadhu’
4)   Menjauhi cinta kedudukan,popularitas dan keduniaan
 Maksudnya adalah janganlah karena ilmu yang telah anda peroleh, lalu anda ingin menjadi pemimpin dan menjadikan ilmu yang anda peroleh sebagai sarana untuk mencapai keuntungan duniawi.
5)   Tidak mengaku-ngaku berilmu
 Maknanya adalah jangan berpura-pura tahu dan mengatakan “ Aku seorang ulama”.

b.     Ilmu Yang Tidak Bermanfaat
     Adapun ilmu yang pada dasarnya dicela oleh Allah swt, adalah seperti tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 102 dan surat Ar Rum ayat 7
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), hanya syetan-syetan itulah yang kafir (karena mengerjakan sihir). Mereka mengajrkan sihir kepada manusia dan apa yang diharamkan pada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengerjakan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan : Sesungguhnya kami hanya cobaab bagimu, karena itu janganlah kamu kafir. Maka mereka mempelajari dari dua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka itu tidak memberi mudharat kepada seorangpun dengan sihirnya kecuali atas izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa menukar kitab Allah dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya diakhirat. Dan amat jahatlah perbuatan mereka menukar dirinya dengan sihir kalau mereka mengatahui”. (Q.S. Al Baqarah : 102)
c.      Pengertian Barakah
     Barakah menurut arti lughat adalah berkat, bahagia, untung, tumbuh dan berkembang. Menurut Kamus Al Muhith, Barakah artinya ialah bergerak, tumbuh, bertambah atau bahagia ( Al Muhith, III : 293 ).
Menurut Imam Syamsuddin al – Ssakhawi, barakah adalah :
                                                     المرد بالبركة ا لنمو وا لز تا د ة من ا لخير وا لكرا مت
“ Yang dimaksud dengan barakah adalah berkembang dan bertambahnya kebaikan dan kemuliaan “.
     Sesuatu dianggap mempunyai barakah bila ia tumbuh, bergerak dan memberi kebahagiaan kepada mempunyai.
Pengertian barakah ini kemudian tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Islam sehingga menjadi suatu istilah tersendiri.
         Imam Al Khazin berpendapat bahwa penertian barakah atau berkat, yaitu : 
  ثبو ت ا لا لهى في الشي                                                                         
“ Sesuatu kebaikan Tuhan yang diletakkan pada sesuatu “
Maksud kebaikan Tuhan yang diletakkan kepada sesuatu ialah apa saja yang diletakkan oleh Allah pada diri Nabi, baik itu yang ada pada badannya, bajunya, bahkan ada pula yang diletakkan pada diri pada wali, dan para ulama serta pada orang-orang yang shaleh dan yang mati syahid.
                 Sedangkan yang dimaksud dengan tabarrukan adalah sebagaimana dikatakan oleh Drs. Imron AM,” Tabarruk yaitu ; mengharapkan datangnya kebaikan Ilahi dari sesuatu yang di percayai memiliki nilai-nilai keberkatan “.
     Contoh-contoh tabarruk :
-        Shalat di Masjidil haram, dengan mengharapkan memperoleh berkahnya masjid tersebut, yaitu tambahnya pahala dan terkabulnya do’a.
-        Berdo’a di waktu menjelang shubuh, atau sepertiga malam yang terakhir “(waktu sahur), dengan tabarruk dari waktu tersebut, yaitu mengharapkan terkabulnya do’a.
d.     Barokah
                                                  1.     Barokah dan Rahmat
               “Barokah didefenisikan : adanya kebaikan yang sifatnya ilahi dalam suatu perkara atau tindakan. Dengan demikian barakah tidak bisa terlihat langsung secara indawi dan lahiriah namun terkadang bisa terasakan. Sesuatu yang dirasakan mempunyai nilai tambah padahal lahirnya tidak atau malah berkembang, dikatakan mempunyai barokah.Contohnya harta yang dizakati, lahirnya ia berkurang namun pada hakekatnya ia mempunyai barokah atau diberkati, karena kekurangan tersebut terkadang tidak langsung mendatangkan rizki yang lain. Melakukan sesuatu tanpa membaca basmalah secara lahir tidak berbeda dengan melakukannya dengan membaca basmalah namun dengan basmalah ada nilai tambah yang tidak terlihat tapi terkadang terasakan, itulah barokah.
               Demikian juga harta yang bisa termanfaatkan untuk kemaslahatan yang lebih banyak merupakan tanda-tanda diberkahi. Ada harta yang meskipun jumlahnya banyak tapi tidak begitu berguna. Ikhtiar untuk mendapatkan barokah antara lain menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang agama, yang merugikan baik bagi agama atau masyarakat memberikan dari hak-hak apa yang kita miliki, membaca basmalah ketika melakukan sesuatu dan berdoa kepada Allah agar senantiasa diberkati dalam segala hal. Dalam sebuah hadist dijelaskan :
“ Kebajikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang merisaukan hatimu diaman kamu merasa tidak suka apabila hal itu sampai dilihat oleh orang lain “(HR. Muslim).
               Barokah dari harta yang kita miliki adalah bukan hanya harta itu bertambah banyak tetapi juga ketika melalui harta itu kita bisa lebih mendekatkan diri dan lebih bersemangat dalam kebaikan dan beribadah kepada Allah. Kalau melihat contoh real dari keberkahan harta, lihatlah Rasulullah dan para sahabatnya, mereka kaya, harta mereka  banyak, tapi dengan semua itu tidak turut intensitas ibadah mereka hanya karena kesibukan untuk mengurus harta yang mereka miliki. Karena mereka hanya meletakkan harta mereka ditangan mereka, tidak dihati mereka.
               Barokah dari umur yang kita miliki ketika Allah memberikan kemanfaatan terhadap waktu yang kita miliki dalam hal kebaikan, waktu yang kita punya senantiasa bermanfaat untuk kebaikan dunia akhirat kita, kedua-duanya bukan hanya salah satu saja.
               Barokah dari keluarga dan keturunan yang kita miliki adalah ketika mereka bisa menjadi penyejuk pandangan dan patner kita dalam beribadah, bukan malah sebaliknya menjadi hambatan dalam kita menunaikan kewajiban kepada Allah.
e.     Cara mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah
                          ·   Niat yang tulus dan ikhlas
                          ·   Patuh dan menghormati guru
                          ·   Penuh semangat, sungguh-sungguh, dan istiqomah
                          ·   Tidak kikir, baik kikir harta maupun ilmu
                          ·   Cinta pada ilmu yang dicari
                         ·   Sabar dalam menghadapi cobaan, rintangan, dan tantangan
                          ·   Luasnya waktu belajar dan tidak tergesa-gesa
                          ·   Selalu bersikap bijaksana dan hati-hati
 


                                        DAFTAR PUSTAKA

Al Ustad Suaidi Qomar, Kajian Keislaman.Masjid Imam Bonjol, Jakarta, 2008
Atkinson, Pengantar Psikologi. Interaksara, Batam, 2005.
Chaplin James P, Kamus lengkap Psikologi. Rajawali Press, Jakarta 2005
Sudarsono,Pengantar Kuliah Psikologi Umum. Fak.Psikologi Unas Pasim 2004.
Sumadi Surya Brata, Psikologi Kepribadian. Rajawali Press, Jakarta, 1982.
www.Pesantren Al Hikam.com
Yazid Bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At Taqwa. Cetakan Permata Rabi’uts Tsani. Bogor,2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar anda atas blog kami sngat berguna buat perbaikan di kemudian hari.
tutur kata yang santun mencerminkan pribadi yg bijak.
terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.